SIRI KULIAH IBADAH 1
SYARAT DITERIMA IBADAH
Segala puji
hanya bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu
dicurahkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya,
para shahabatnya dan juga para pengikutnya hingga akhir zaman.
Ikhwanfillah yang dirahmati Allah.....
Telah datang
kepada kita rahmat dan kenikmatan iman dan islam. Dan dalam kenikmatan itu kita sudah barang tentu kita semua akan berlumba-lumba
mengerjakan amalan-amalan agar mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Akan tetapi bagaimanakah sebuah amalan itu dapat diterima disisi Allah?
Apakah kita boleh sahaja beribadah kepada Allah dengan tanpa mempedulikan
peraturan dan cara yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam ? Tentu saja tidak.! Dan bahagian yang tepenting dari syarat
diterimanya amal ibadah itu ada dua yaitu :
Pertama : mengikhlaskan niat karena Allah Ta'ala
Kedua : mengikuti
dan sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Sallam.
1. Mengikhlaskan niat kerana Allah
Ikhwanfillah yang dimuliakan Allah….
Sungguh,
setiap amalan ibadah yang ditujukan kepada Allah itu haruslah disertai dengan
niat. Seperti apa yang telah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam jelaskan
dalam riwayat Umar Radiyallahu 'anhu bahwasannya Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya
setiap amal itu tergantung kepada niat…”(HR
Bukhari, Muslim).
Dan yang dimaksud dengan amal disini adalah amalan ketaatan, bukan amalan yang mubah (seperti makan). Jadi sudah seharusnya bagi setiap orang yang akan melakukan suatu amalan ketaatan itu berniat. Dan ketahuilah, bahwasannya niat itu letaknya dihati. dan melafadzkan niat dibibir ini termasuk salah satu bentuk kebid'ahan. Dan Rasulullah shallallahu 'Alaihi wa sallam telah menyatakan bahwasannya setiap bid'ah itu sesat. Dan tidak ada yang namanya bid'ah hasanah.
Kemudian yang perlu pula kita jaga dalam melaksanakan amalan ketaatan tersebut ialah mengikhlaskan niat karena Allah Saja. Karena hanya milik Allah sajalah agama yang bersih. Yaitu yang bersih dari segala bentuk kesyirikan. Kita dalam beramal sangat perlu menjaga agar jangan sampai amalan kita tercampur dengan riya’. Kerana barangsiapa yang melakukan suatu amalam keranana riya’ maka amalan tersebut tidak ada nilainya sama sekali disisi Allah. Dan kita juga memohon kepada Allah agar dijauhkan dari sifat riya’ ini karena barangsiapa yang terus menerus melakukan riya maka ditakutkan dia akan terkena firman Allah :
“sungguh
apabila kamu mensekutukan Allah maka akan benar-benar hapuslah amalan-amalanmu
dan nanti kamu merupakan golongan orang-orang yang merugi”
Dan juga
fiman-Nya :
“dan kami
hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan
debu yang berterbangan” (Al-Furqan-23).
Kemudian
Rasulullah Shallallhu 'Alaihi wa Sallam juga menjelaskan:
“ Barangsiapa
berhijrah niatnya karena Allah maka hijrahnya itu diterima Allah dan Rasul-Nya,
dan barangsiapa yang berhijrah untuk tujuan dunia atau wanita yang akan dinikahinya,
maka hijrahnya akan sampai kepada apa yang diniatkan”.
(Muttafaqun 'Alaih).
Dalam hadits
tersebut Rasulullah menjelaskan bahwasannya barangsiapa yang berhijrah berniat
hanya kepada Allah maka Allah akan menerima amalan ketaatannya. Akan tetapi
barangsiapa yang tidak mengikhlaskan niat kepada Allah sungguh Allah tidak
menerima amalannya dan yang dia dapatkan hanyalah apa yang telah dia niatkan.
Maka ikhwah sekalian yang dirahmati Allah.., marilah kita semua menjaga semua amal perbuatan kita, mengikhlaskan semua amal perbuatan kita hanya kepada Allah saja. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah 72 :
“Sungguh
orang yang mempersekutukan Allah, Maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya
surga dan tempatnya ialah neraka”.
Dan kami berlindung kepada Allah dari hal tersebut.
2.
Sesuai
dengan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat Al-Hasyr ayat 7 berfirman
“Apa
saja yang diberikan rasul kepadamu maka ambillah dia. Dan apa saja yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah”.
Ikhwah sekalian yang dirahmati Allah..
Sungguh
setiap amalan ketaatan yang akan kita lakukan maka marilah kita pertanyakan
dulu apakah ini datang dari Rasulullah atau tidak. Karena ibadah itu sifatnya
adalah Tauqifiyah atau mempunyai dalil.
Apabila ada dalil yang shahih yang menjelaskan tentang hal ibadah tersebut,
maka silakan kita melakukannya. Tapi apabila tidak ada dalil yang menjelaskan
tentang hal ibadah yang akan kita laksanakan maka marilah kita tingalkan amalan
tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah bersabda.:
“Barangsiapa melakukan suatu perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak termasuk bagiannya maka perkara baru tersebut tertolak”.(Bukhari muslim).
Hadits ini membawa makna bahawasanya amal yang telah kita lakukan walaupun dengan keikhlasan yang penuh akan tetapi bertentangan atau tidak ada dalil yang sahih yang berasal dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam maka niscaya tidak akan diterima. Dan apabila kita melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya maka Rasulullah shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengingatkan kita
“Berhati-hatilah dengan perkara baru, karena sesungguhnya segala perkara baru itu bid'ah, dan semua bid'ah itu sesat dan kesesatan itu tempat kembalinya ialah neraka”.(Tirmidzi Nasa'i)
maka sebagai seorang muslim, maka kita dalam melakukan suatu amalan hendaklah kita mengetahui dahulu akan ilmunya. Kita mengetahui dahulu apakah ada dalil tentang bolehnya ibadah yang akan kita laksanakan.
Allahu a'lam
__________________________________________________________________________________
Maraji' :
Maraji' :
1.
Al-Kabaair, Al-Imam
Adz-dzahabi.
2.
Syarah Hadits Arba'in, Al-imam
An-Nawawi
3.
Minhaj Firqatun Naajiyah,
Al-Imam Jamil Zainu
______________________________________________________________________________________________________
“inilah
jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak kamu kepada
Allah dengan DALIL yang nyata” (Surah
Yusof : 108)
Tulisan
yang anda baca ini adalah sebahagian Siri Kuliah Ibadah yang diedarkan secara
percuma untuk tujuan dakwah. Untuk mendapatkan siri-siri yang berikut sila
email ke akademisunnah@myquran.com
No comments:
Post a Comment