Thursday, January 31, 2013

Sikap Ghuluw Terhadap Ulama dan Orang Shalih



**SIKAP GHULUW TERHADAP ULAMA DAN ORANG SHALIH**

Masalah Jahiliyyah 13:

Masyarakat jahiliyyah biasa melakukan sikap berlebih-lebihan terhadap orang shalih ,sebagaimana firimankan oleh Allah:
v     Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar[Surat An Nisaa:171]

PENJELASAN:
Ini adalah persoalan besar. Ghuluw secara bahasa berarti melampaui batas. Biasa diungkapkan: (Air dalam) panci itu mengalami ghuluw, yakni airnya menggelegak karena mendidih. Biasanya juga diungkapkan: Harga-harga mengalami ghuluw. Yakni ketika menjadi tinggi melampaui batas kewajaran. Ghuluw artinya bertambah atau melonjak tinggi melampaui batas yang wajar. Ghuluw secara syarI adalah mengangkat seseorang diatas kedudukannya yang semestinya. Seperti mengangkat derajat para nabi dan orang-orang shalih lalu mendudukkan mereka pada posisi sesbagai Rabb atau sesembahan.
Masyarakat jahiliyyah melakukan sikap berlebih-lebihan terhadap banyak orang dan mengangkat mereka diatas kedudukannya sehingga menjadikan sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah. Orang-orang Yahudi bersikap ghuluw terhadap UZAIR, mereka mengatkan :Uzair anak Allah. Seperti juga kaum Nasrani yang bersikap ghuluw terhadap Isa bin Maryam alaihi salam, mengangkatnya dari derajat manusia dan rasul menjadi sesembahan. Mereka juga mengatakan bahwa Isa adalah anak Allah. Kaum Nuh juga bersikap ghuluw terhadap orang-orang shalih, mereka membuat lukisan dan patung-patung orang-orang shalih tersebut kemudian menyembahnya disamping menyembah Allah. Mereka mengangkat orang-orang shalih itu ketingkat sesembahan. Firman Allah:
v     Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr". [Surat Nuh:23]
Yakni menjadikan mereka sebagai sesembahan.
Demikian juga halnya dengan kaum musyrikin lainnya dari berbagai glongan hingga saat ini. Sikap mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih, mengelilingi kuburan (tawaf ap-) sambil berdzikir, menyembelih hewan untuk sesajen mereka, bernadzar untuk mereka, meminta keselamatan kepada orang-orang shalih yang sudah wafat, bahkan meminta perlindungan dan meinta kepadanya untuk dipenuhi kebutuhan mereka.
Sikap berlebih-lebihan itu dapat menggiring pelakunya menuju perbuatan syirik. Oleh sebab itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
      Janganlah kalian meng-agung-agung-kan diriku sebagaimana kaum Nashrani mengagung-agungkan ibnu  Maryam. Arti ithra (mengagung-agungkan) dalam hadits ini adalah berlebih-lebihan dalam memujinya.Aku adalah seorang hamba. Katakanlah :Hamba dan RasulNya.[Dikeluarkan Bukhari no.3445]
Sikap berlebih-lebihan terhadap para tokoh tertentu,para nabi dan orang-orang shalih itulah yang menjerumuskan kaum musyrikin dari kalangan ahlu kitab dan non ahli kitab kedalam perbuatan syirik besar. Seharusnya dketahui derajat yang sesuai bagi oarang-orang tersebut. Para rasul harus diketahui kedudukannya sebagai rasul, orang-orang shalih dengan keshalihannya, para ulama dengan ilmu mereka. Mereka memang lebih utama dibandingkan manusia lain.Keutamaan ulama dibandingkan ahli ibadah seperti bulan dibandingkan bintang-bintang.mereka hendaknya diposisikan sesaui dengan kedudukan mereka,tidak boleh diangkat melebihi tingkatan yang semestinya. Allah berfirman:
v     Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga",[surat An Nisaa:171]
Demikian juga Allah berfirman:
v     Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." [surat Al Maidah;77]
Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
      Berhati-hatilah kalian terhadap sikap berlebih-lebihan dalam agama.Karena yang membinasakan umat-umat terdahulu tidak lain adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.[An NasaaI V:296, no.3057; Ibnu Majah III:476,no.3029;Ahmad dalam musnadnya I:215,437.Dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam shahih Al jami no.2680]
Sikap berlebih-lebihan terhadap sesama mahluk tidak diperbolehkan,demikian juga mengangkat derajat sesama mahluk lebih tinggi dari tingkat yang diberikan Allah kepadanya. Karena sikap tersebut dapat menggiring kepada perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Demikian juga halya dengan sikap berlebih-lebihan terhadap para ulama dan ahli ibadah. Allah menceritakan tentang kaum Yahudi dan Nashrani:
v     Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[Surat At Taubah:31]
Mereka bersikap berlebih-lebihan terhadap para ulama dan ahli ibadah sehingga menyakini para ulama dan ahli ibadah itu layak menentukan halal dan haram dan merubah syariat Allah yang suci.

##Warisan jahiliyyah bagian 05##
Abu Ismail @ Karang Tengah Dzulqaidah 1424H
Email: apriadi27@yahoo.com
==========================================
Sumber , Judul asli:Syarh Masaailil Jaahiliyyah
Penulis:Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab
Pensyarah:Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan
Edisi Indonesia:128 Tabiat dan Perangai jahiliyyah
Penerjemah:Abu Umar Al Maidani Abu Ihsan Al Atsari
Penerbit At Tibyan,cetakan 1 Februari 2003
===========================================

No comments:

Post a Comment