Thursday, January 31, 2013

Sikap Ghuluw Terhadap Ulama dan Orang Shalih



**SIKAP GHULUW TERHADAP ULAMA DAN ORANG SHALIH**

Masalah Jahiliyyah 13:

Masyarakat jahiliyyah biasa melakukan sikap berlebih-lebihan terhadap orang shalih ,sebagaimana firimankan oleh Allah:
v     Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar[Surat An Nisaa:171]

PENJELASAN:
Ini adalah persoalan besar. Ghuluw secara bahasa berarti melampaui batas. Biasa diungkapkan: (Air dalam) panci itu mengalami ghuluw, yakni airnya menggelegak karena mendidih. Biasanya juga diungkapkan: Harga-harga mengalami ghuluw. Yakni ketika menjadi tinggi melampaui batas kewajaran. Ghuluw artinya bertambah atau melonjak tinggi melampaui batas yang wajar. Ghuluw secara syarI adalah mengangkat seseorang diatas kedudukannya yang semestinya. Seperti mengangkat derajat para nabi dan orang-orang shalih lalu mendudukkan mereka pada posisi sesbagai Rabb atau sesembahan.
Masyarakat jahiliyyah melakukan sikap berlebih-lebihan terhadap banyak orang dan mengangkat mereka diatas kedudukannya sehingga menjadikan sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah. Orang-orang Yahudi bersikap ghuluw terhadap UZAIR, mereka mengatkan :Uzair anak Allah. Seperti juga kaum Nasrani yang bersikap ghuluw terhadap Isa bin Maryam alaihi salam, mengangkatnya dari derajat manusia dan rasul menjadi sesembahan. Mereka juga mengatakan bahwa Isa adalah anak Allah. Kaum Nuh juga bersikap ghuluw terhadap orang-orang shalih, mereka membuat lukisan dan patung-patung orang-orang shalih tersebut kemudian menyembahnya disamping menyembah Allah. Mereka mengangkat orang-orang shalih itu ketingkat sesembahan. Firman Allah:
v     Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr". [Surat Nuh:23]
Yakni menjadikan mereka sebagai sesembahan.
Demikian juga halnya dengan kaum musyrikin lainnya dari berbagai glongan hingga saat ini. Sikap mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih, mengelilingi kuburan (tawaf ap-) sambil berdzikir, menyembelih hewan untuk sesajen mereka, bernadzar untuk mereka, meminta keselamatan kepada orang-orang shalih yang sudah wafat, bahkan meminta perlindungan dan meinta kepadanya untuk dipenuhi kebutuhan mereka.
Sikap berlebih-lebihan itu dapat menggiring pelakunya menuju perbuatan syirik. Oleh sebab itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
      Janganlah kalian meng-agung-agung-kan diriku sebagaimana kaum Nashrani mengagung-agungkan ibnu  Maryam. Arti ithra (mengagung-agungkan) dalam hadits ini adalah berlebih-lebihan dalam memujinya.Aku adalah seorang hamba. Katakanlah :Hamba dan RasulNya.[Dikeluarkan Bukhari no.3445]
Sikap berlebih-lebihan terhadap para tokoh tertentu,para nabi dan orang-orang shalih itulah yang menjerumuskan kaum musyrikin dari kalangan ahlu kitab dan non ahli kitab kedalam perbuatan syirik besar. Seharusnya dketahui derajat yang sesuai bagi oarang-orang tersebut. Para rasul harus diketahui kedudukannya sebagai rasul, orang-orang shalih dengan keshalihannya, para ulama dengan ilmu mereka. Mereka memang lebih utama dibandingkan manusia lain.Keutamaan ulama dibandingkan ahli ibadah seperti bulan dibandingkan bintang-bintang.mereka hendaknya diposisikan sesaui dengan kedudukan mereka,tidak boleh diangkat melebihi tingkatan yang semestinya. Allah berfirman:
v     Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga",[surat An Nisaa:171]
Demikian juga Allah berfirman:
v     Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." [surat Al Maidah;77]
Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
      Berhati-hatilah kalian terhadap sikap berlebih-lebihan dalam agama.Karena yang membinasakan umat-umat terdahulu tidak lain adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.[An NasaaI V:296, no.3057; Ibnu Majah III:476,no.3029;Ahmad dalam musnadnya I:215,437.Dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam shahih Al jami no.2680]
Sikap berlebih-lebihan terhadap sesama mahluk tidak diperbolehkan,demikian juga mengangkat derajat sesama mahluk lebih tinggi dari tingkat yang diberikan Allah kepadanya. Karena sikap tersebut dapat menggiring kepada perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Demikian juga halya dengan sikap berlebih-lebihan terhadap para ulama dan ahli ibadah. Allah menceritakan tentang kaum Yahudi dan Nashrani:
v     Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[Surat At Taubah:31]
Mereka bersikap berlebih-lebihan terhadap para ulama dan ahli ibadah sehingga menyakini para ulama dan ahli ibadah itu layak menentukan halal dan haram dan merubah syariat Allah yang suci.

##Warisan jahiliyyah bagian 05##
Abu Ismail @ Karang Tengah Dzulqaidah 1424H
Email: apriadi27@yahoo.com
==========================================
Sumber , Judul asli:Syarh Masaailil Jaahiliyyah
Penulis:Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab
Pensyarah:Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan
Edisi Indonesia:128 Tabiat dan Perangai jahiliyyah
Penerjemah:Abu Umar Al Maidani Abu Ihsan Al Atsari
Penerbit At Tibyan,cetakan 1 Februari 2003
===========================================

Bukti-bukti Cinta Kepada Rasulullah



Bukti-bukti Cinta Kepada Rasulullah

28 Mac 2007
Ust Dr Abdullah Yasin (Pengerusi Al-Nidaa’)

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يُوْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
Tidak (sempurna) iman salah seorang kamu sehingga aku lebih dicintai dari orang tuanya, anaknya dan semua manusia lainnya. (HR Bukhari dan Muslim)


Syarah Al-Hadis:

Hadis di atas adalah bukti yang amat jelas tentang kewajipan kita mencintai Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam). Malahan iman seseorang belum digolongkan sebagai iman yang sempurna sehingga baginda Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam) lebih dia cintai melebihi cintanya kepada kedua ibubapanya, anak-anaknya dan semua manusia lain.

Penggunaan istilah  أَحَبُّ )) iaitu (lebih mencintai) di dalam hadis di atas mengisyaratkan bahwa cinta kepada Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam) yang dimaksud bukanlah sekedar cinta tetapi mestilah cinta yang mengatasi atau melebihi daripada cintanya kepada yang lain. Jika cintanya tidak sampai ke tahap itu berarti imannya belum sempurna.

Dan di dalam hadis di atas khusus disebut tentang ibubapa dan anak-anak, karena kedua jenis manusia inilah yang paling dikasihi olih seseorang. Bahkan terkadang-kadang kedua-duanya lebih dikasihi dari dirinya sendiri.

Ini menunjukkan betapa seorang mukmin dituntut mengasihi baginda Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam) hatta terhadap dirinya sendiri. Ini sebagaimana tegoran Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam) terhadap Omar Al-Khattab (ra) yang berkata:

Ya Rasulullah,sesungguhnya tuan adalah orang yang paling saya kasihi mengatasi segala-galanya kecuali terhadap diri saya sendiri.

Mendengar kata-kata itu, lalu baginda pun bersabda:

Tidak, demi diriku di tanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri

Lalu Omar menjawab: Sesungguhnya sekarang, demi Allah, tuan adalah orang yang paling saya kasihi walaupun terhadap diri saya sendiri.

Dan mendengar kenyataan itu bagindapun bersabda: Sekarang (barulah sempurna imanmu hai Omar. [HR Bukhari]


Makna Cinta Kepada Rasul (sallallahu alayhi wasalam).

Cinta kepada Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam) maknanya kecenderungan hati seorang muslim kepada Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam) yang kesannya mengatasi cintanya kepada segala-galanya samada terhadap dirinya, ibubapanya, anak-anaknya dan semua manusia lain.

Faktor-faktor Pendorong Mencintai Rasul.

Sungguh banyak faktor pendorong sehingga hati kita terpikat mencintai baginda Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam), antara lain:

(1)     Kerana cinta seorang muslim kepada baginda (sallallahu alayhi wasalam) adalah follow-up atau realisasi daripada kecintaannya terhadap Allah SWT. Cinta kepada Allah adalah asas segala cinta yang disyariatkan. Kita mestilah mencintai segala yang dicintai Allah seperti cinta kepada para rasul, para nabi, para malaikat, hamba-hambaNya yang salih, amal salih, akhlak yang mulia. Jadi cinta kepada Allah mewajibkan kita agar cinta pula kepada apa yang dicintaiNya. Allah berfirman di dalam surah Ali Imran ayat 31:


قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, (maka) ikutilah aku, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Ali Imran 3:31)


(2)     Karena Allah memilih beliau sebagai makhluk yang paling mulia samada dengan memilihnya sebagai penghulu segala rasul, menurunkan kepadanya Al-Quran, memuliakannya dengan selawat dan menganugerahkan kepadanya derjat khullah (khalil) iaitu derjat yang lebih tinggi daripada mahabbah (cinta). Derjat ini tidak diberikan olih Allah kecuali untuk Nabi Ibrahim dan baginda (sallallahu alayhi wasalam). Allah jadikan beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam, Allah memuliakan beliau dengan memberinya syafaat ‘uzma (pertolongan agung) di hari kiamat nanti dll.

(3)     Karena kasih sayangnya yang amat sangat terhadap umatnya, kesungguhannya memberi hidayat dan usaha gigih menyelamatkan umatnya daripasa kebinasaan. Firman Allah:


لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olihnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At-Taubah 9:128)


(4)     Karena nasihat dan ihsannya yang luarbiasa terhadap umatnya. Beliau telah bimbing umatnya supaya melakukan segala bentuk kebaikan untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah. Dan beliau juga telah ingatkan mereka dari segala keburukan yang bolih membawa mereka ke jurang kehinaan di dunia dan azab di akhirat. Firman Allah:


لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ
Sesungguh Allah telah memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali Imran 164)

(5)     Karena Allah telah khususkan untuk beliau budi pekerti dan akhlak yang mulia sebagai pembeda antara beliau dengan semua akhluk yang lain. Allah berfirman:


وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam 68:4)


Atas sebab inilah maka para sahabat sangat cinta kepada baginda karena mereka menyaksikan sendiri betapa mulianya akhlak beliau.


Beberapa Bukti Cinta Kita Kepada Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam)

Walaupun cinta sebenarnya adalah amalan hati, namun kebenaran cinta mestilah dibuktikan dalam bentuk nyata, apakah dalam bentuk ucapan atau perbuatan. Sudah menjadi adat resam bahwa apa saja dakwaan tidak akan diterima kecuali jika ada buktinya, sebab jika setiap dakwaan manusia diterima maka akan musnahlah neraca keadilan dan kebenaran.

Dan selagi dakwaan cinta kepada Allah, rasulNya dan orang-orang salih tidak diperlukan pembuktiannya, maka selama itulah berarti kita memberi laluan kepada puak pelampau membuat bid’ah dan khurafat sesuka hati mereka di dalam masyarakat kita.

Dan di antara bukti cinta kita kepada Rasul (sallallahu alayhi wasalam) adalah seperti berikut:

1.       Patuh kepada baginda dan mengikuti ajarannya.
Kepatuhan seseorang terhadap ajaran Rasulullah bawa adalah bukti yang paling kuat menandakan kebenaran cintanya. Tanpa mematuhi ajarannya membuktikan kepalsuan dakwaan cintanya.

Al-Hasan Al-Basry dan para salaf berkata: Suatu kaum mendakwa bahwa mereka cinta kepada Allah, lalu Allah menguji mereka dengan menurunkan ayat ini (Katakanlah: “Jika benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku…) (Ali Imran 31).

2.       Mengagungkan (ta’zim) dan menghormati beliau.
Asas ta’zim kepada nabi ialah dengan membenarkan segala perkhabarannya, mematuhi segala suruhannya, menjauhi segala larangannya dan beribadat kepada Allah dengan cara yang disyariatkannya. Barangsiapa yang tidak memenuhi asas ta’zim di atas maka rosaklah ta’zimnya kepada Rasul. Dan ada dua kemungkinan yang dapat merosakkan ta’zim seseorang kepada Rasulullah, iaitu:

Pertama: Tafrit maknanya mengurangi hak-hak Rasul seperti meragui kejujuran, keadilan dan kebenaran yang beliau bawa, meninggalkan selawat dan salam terhadapnya, menghina sunnahnya dll.

Kedua: Ifrat maknanya melampaui batas, menyanjung beliau melebihi martabatnya yang telah ditetapkan olih Allah seperti mendakwa beliau tahu perkara ghaib secara mutlak, alam ini berasal daripada nur beliau, beliau telah wujud sebelum wujudnya alam ini dll.

Atas sebab inilah maka Imam Abdul Hadi Al Muqaddasy membagi ta’sim kepada dua iaitu: Ta’zim masru’ dan Ta’zim ghairu masyru’.

Ta’zim masyru’ (ta’zim yang disuruh) iaitu ta’zim atau sanjungan yang disukai olih orang yang disanjungi. Dia reda dengan sanjungan itu, malah disuruh berbuat demikian dan mendapat ganjaran bagi orang yang melakukannya.

Ta’zim ghairu masyru’ (ta’zim yang dilarang) iaitu ta’zim yang dibenci olih orang yang disanjung itu, dia murka dan diancam dengan dosa bagi yang melakukannya. Ini sebenarnya bukan ta’zim tetapi sebenarnya ghuluw atau ifrat (melampau). Atas sebab inilah golongan Syiah Rafidhah bukanlah ta’zim kepada Ali Bin Abi Talib kalau mereka mendakwa bahwa Alu itu tuhan, nabi atau bersifat maksum dan lain-lain, sebagaimana orang nasrani bukanlah ta’zim terhadap Isa Bin Maryam kalau mereka sampai mendakwa Isa itu anak Tuhan. Baginda Rasul (sallallahu alayhi wasalam) bersabda:

Janganlah kamu keterlaluan menyanjung aku sebagaimana sanjungan yang diberikan orang nasrani terhadap Isa anak Maryam, sesungguhnya aku hambaNya, olih itu panggilan aku Abdullah (hamba Allah) dan rasulNya (pesuruh Allah). [HR Bukhari]

Anas Bin Malik berkata bahwa seorang lelaki (sahabat) berkata kepada Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam): Ya Muhammad, ya penghulu kami, hai anak penghulu kami, hai orang yang paling baik di antara kami, hai anak orang yang paling baik di antara kami. Begitu mendengar sanjungan itu baginda pun bersabda: Hentikanlah kata-katamu itu, janganlah kamu rela digoda syaitan, saya adalah Muhammad Bin Abdullah, hamba Allah dan utusanNya, demi Allah, aku tidak suka kamu mengangkat derjat dan kedudukanku mengatasi kedudukan yang telah dianugerahkan olih Allah Azza Wa Jalla kepadaku. [Hadis ini sanadnya sahih dengan syarat Muslim]

3.       Banyak mengingatinya, rindu melihat wajahnya dan ingin sangat bertemu dengannya. Sabda Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam):

Orang yang paling aku cintai di kalangan umatku ialah orang-orang sesudahku yang sangat ingin melihat aku (walaupun dengan mengorbankan) keluarganya dan hartanya. [HR Muslim]

Ibnu Asatir menyatakan dalam terjemahnya tentang Bilal Bin Rabah bahwa ketika Bilal akan menghembuskan nafasnya yang terakhir, isterinya sangat sedih sambil menyebut: Waa Wailaah (alangkah malangnya), tetapi pada saat itu Bilal sempat berkata: Waa Farhaah (alangkah gembiranya) karena beliau akan bertemu di alam sana dengan orang yang paling beliau cintai, iaitu Muhammad dan rakan-rakannya.

Masih wujudkan perasaan seperti ini dikalangan umat Islam sekarang? Perasaan ini telah lenyap dari alam ini kecuali orang-orang yang mendapat rahmat Allah. Fikiran kebanyakan manusia hari ini dipenuhi olih sifat ingin berlumba-lumba mengejar kesenangan duniawi yang murah ini sehingga sedikit sekali yang ingat kepada Rasulullah, apatah lagi merindui untuk berjumpa dengannya.

Ingat, bahwa setiap umat akan dibangkit bersama rasul mereka masing-masing saksi pada Hari BerHisab nanti. Nabi Muhammad akan menjadi saksi kita. Tidak perlukan kita kepada syafaatnya, wajarkah kita melupakan orang yang paling berperanan ini?


4.       Mencintai keluarganya, kaum kerabat dan shabat-sahabatnya.
Bukti cinta kita kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya ialah dengan menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka, memelihara kehormatan dan kedudukan mereka serta benci kepada orang-orang yang membenci atau menghina mereka. Allah SWT reda kepada meeka, Firman Allah:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah reda kepada mereka dan mereka pun reda kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syorga-syorga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.      (At-Taubah 9:100)


Baginda memuji sahabat-sahabatnya, antara lain sabdanya: Sebaik-baik manusia ialah (manusia yang hidup dalam) kurunku, kemudian mereka yang mengikutinya, kemudian mereka yang mengikutinya  [HR Bukhari]


5.       Mencintai sunnahnya dan para ulama yang gigih menyebarkannya.
Orang yang paling teguh pegangannya dengan sunnah rasul dan gigih berdakwah menyebarkan sunnah ialah para salaf salih dan pengikut setia mereka yang sehaluan dalam prinsipnya hingga ke hari ini.

Oleh sebab itu kita mestilah hargai perjuangan ulama masa silam dan menjaga kehormatan mereka serta beradab kepada mereka dan memaafkan mereka andaikata terdapat kekeliruan yang tidak disengajakan. Kita mestilah menilai pendapat mereka dengan pemahaman yang positif, karena tujuan mereka tidak lain kecuali untuk menegakkan agama yang benar ini. Ini tidak pula bermakna kita tidak bolih menjelaskan atau memperbetulkan kekeliruan mereka. Itu adalah tugas para ulama hingga hari kiamat.

Yang kita maksudkan ialah kita mestilah berbaik sangka terhadap ulama masa silam dan bersopan dengan mereka karena merekalah pembawa syariat ini, kalaulah Allah tidak jadikan mereka sebagai pemikul tugas ini, barangkali agama ini tidak sampai pada kita.Kalau mereka orang-orang terdahulu yang baik (salaf salih) marilah kita menjadi orang-orang akhir zaman yang baik (khalaf salih).

Jangan pula sampai terjadi: kita ambil manfaat daripada peninggalan atau warisan mereka, tetapi di saat yang sama kita ingkari kelebihan mereka atau kita cari-cari kekurangan mereka sampai akhirnya kita lupakan keutamaan dan jasa baik mereka. Inilah antara lain sebab utama hilangnya keberkatan agama dan ilmu dari kita menerima pandangan mereka, kita kasihi mereka dan kita mohon ampunan kepada Allah untuk mereka. Beginilah sepatutnya sikap orang mukmin sepanjang zaman.

Firman Allah:
وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.             (Surah Al-Hasyr 59:10)


Dengan tulisan ini saya harapkan semoga para jamaah dapat melihat dengan jelas betapa dustanya dakwaan sesetengah orang yang kononnya mengaku cinta kepada Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam), bermacam-macam amalan bid’ah mereka buat yang kononnya ingin menyanjung dan menta’zimkan Nabi (sallallahu alayhi wasalam), padahal Nabi (sallallahu alayhi wasalam) tidak suka dan sangat benci dengan cara-cara yang mereka reka-reka itu. Saya doakan semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang cinta kepada baginda (sallallahu alayhi wasalam) dalam pengertian yang sebenarnya, AMIN.

Syarat Diterima Ibadah



SIRI KULIAH IBADAH 1
SYARAT DITERIMA IBADAH

Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu dicurahkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para shahabatnya dan juga para pengikutnya hingga akhir zaman.

Ikhwanfillah yang dirahmati Allah.....
Telah datang kepada kita rahmat dan kenikmatan iman dan islam. Dan dalam kenikmatan itu kita sudah barang tentu kita semua akan berlumba-lumba mengerjakan amalan-amalan agar mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Akan tetapi bagaimanakah sebuah amalan itu dapat diterima disisi Allah? Apakah kita boleh sahaja beribadah kepada Allah dengan tanpa mempedulikan peraturan dan cara yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ? Tentu saja tidak.! Dan bahagian yang tepenting dari syarat diterimanya amal ibadah itu ada dua yaitu :

Pertama           :           mengikhlaskan niat karena Allah Ta'ala
Kedua               :           mengikuti dan sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu
                                    'Alaihi Sallam.

1. Mengikhlaskan niat kerana Allah

Ikhwanfillah yang dimuliakan Allah….
Sungguh, setiap amalan ibadah yang ditujukan kepada Allah itu haruslah disertai dengan niat. Seperti apa yang telah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam jelaskan dalam riwayat Umar Radiyallahu 'anhu bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung kepada niat…”(HR Bukhari, Muslim).

Dan yang dimaksud dengan amal disini adalah amalan ketaatan, bukan amalan yang mubah (seperti makan). Jadi sudah seharusnya bagi setiap orang yang akan melakukan suatu amalan ketaatan itu berniat. Dan ketahuilah, bahwasannya niat itu letaknya dihati. dan melafadzkan niat dibibir ini termasuk salah satu bentuk kebid'ahan. Dan Rasulullah shallallahu 'Alaihi wa sallam telah menyatakan bahwasannya setiap bid'ah itu sesat. Dan tidak ada yang namanya bid'ah hasanah.

Kemudian yang perlu pula kita jaga dalam melaksanakan amalan ketaatan tersebut ialah mengikhlaskan niat karena Allah Saja. Karena hanya milik Allah sajalah agama yang bersih. Yaitu yang bersih dari segala bentuk kesyirikan. Kita dalam beramal sangat perlu menjaga agar jangan sampai amalan kita tercampur dengan riya’. Kerana barangsiapa yang melakukan suatu amalam keranana riya’ maka amalan tersebut tidak ada nilainya sama sekali disisi Allah. Dan kita juga memohon kepada Allah agar dijauhkan dari sifat riya’ ini karena barangsiapa yang terus menerus melakukan riya maka ditakutkan dia akan terkena firman Allah :

“sungguh apabila kamu mensekutukan Allah maka akan benar-benar hapuslah amalan-amalanmu dan nanti kamu merupakan golongan orang-orang yang merugi”

Dan juga fiman-Nya :

“dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan” (Al-Furqan-23).

Kemudian Rasulullah Shallallhu 'Alaihi wa Sallam juga menjelaskan:

Barangsiapa berhijrah niatnya karena Allah maka hijrahnya itu diterima Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang berhijrah untuk tujuan dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan sampai kepada apa yang diniatkan”. (Muttafaqun 'Alaih).

Dalam hadits tersebut Rasulullah menjelaskan bahwasannya barangsiapa yang berhijrah berniat hanya kepada Allah maka Allah akan menerima amalan ketaatannya. Akan tetapi barangsiapa yang tidak mengikhlaskan niat kepada Allah sungguh Allah tidak menerima amalannya dan yang dia dapatkan hanyalah apa yang telah dia niatkan.
 
Maka ikhwah sekalian yang dirahmati Allah.., marilah kita semua menjaga semua amal perbuatan kita, mengikhlaskan semua amal perbuatan kita hanya kepada Allah saja. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah 72 :

Sungguh orang yang mempersekutukan Allah, Maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka”.

Dan kami berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

2.           Sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat Al-Hasyr ayat 7 berfirman

Apa saja yang diberikan rasul kepadamu maka ambillah dia. Dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.

Ikhwah sekalian yang dirahmati Allah..
Sungguh setiap amalan ketaatan yang akan kita lakukan maka marilah kita pertanyakan dulu apakah ini datang dari Rasulullah atau tidak. Karena ibadah itu sifatnya adalah Tauqifiyah atau mempunyai dalil. Apabila ada dalil yang shahih yang menjelaskan tentang hal ibadah tersebut, maka silakan kita melakukannya. Tapi apabila tidak ada dalil yang menjelaskan tentang hal ibadah yang akan kita laksanakan maka marilah kita tingalkan amalan tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah bersabda.:

Barangsiapa melakukan suatu perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak termasuk bagiannya maka perkara baru tersebut tertolak”.(Bukhari muslim).

Hadits ini membawa makna bahawasanya amal yang telah kita lakukan walaupun dengan keikhlasan yang penuh akan tetapi bertentangan atau tidak ada dalil yang sahih yang berasal dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam maka niscaya tidak akan diterima. Dan apabila kita melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya maka Rasulullah shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengingatkan kita

Berhati-hatilah dengan perkara baru, karena sesungguhnya segala perkara baru itu bid'ah, dan semua bid'ah itu sesat dan kesesatan itu tempat kembalinya ialah neraka”.(Tirmidzi Nasa'i)

maka sebagai seorang muslim, maka kita dalam melakukan suatu amalan hendaklah kita mengetahui dahulu akan ilmunya. Kita mengetahui dahulu apakah ada dalil tentang bolehnya ibadah yang akan kita laksanakan.

Allahu a'lam
__________________________________________________________________________________
Maraji' :
1.     Al-Kabaair, Al-Imam Adz-dzahabi.
2.     Syarah Hadits Arba'in, Al-imam An-Nawawi
3.     Minhaj Firqatun Naajiyah, Al-Imam Jamil Zainu


______________________________________________________________________________________________________
“inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak kamu kepada Allah dengan DALIL yang nyata” (Surah Yusof : 108)
Tulisan yang anda baca ini adalah sebahagian Siri Kuliah Ibadah yang diedarkan secara percuma untuk tujuan dakwah. Untuk mendapatkan siri-siri yang berikut sila email ke akademisunnah@myquran.com