SIRI KULIAH IBADAH
WASIAT-WASIAT GENERASI SALAF
Oleh : Abu Ihsan Al-Atsari
____________________________________________________________________________________
Generasi Salaf
sebagai Generasi Pilihan
Allah Ta`ala
berfirman dalam kitab-Nya:
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama
(masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan
bagi mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-taubah : 100)"
Dalam ayat di atas
Allah Subhanahu wa Ta`ala memberi pujian kepada para sahabat dan orang-orang
yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah generasi terbaik yang dipilih
oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nya dalam mengembang risalah ilahi.
Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau kelebihan mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi Rabbani yang selalu mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu `alaihiwa sallam.
Dengan mengikut
jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan boleh meraih kembali masa
keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, "Tidak akan baik generasi akhir umat
ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik".
Sungguh sebuah ucapan yang pantas ditulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini
mengambil generasi terbaik itu sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan
niscaya kebahagiaan akan menyongsong mereka.
Dalam kesempatan
kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf menyucikan jiwa mereka, yang
kami nukil dari petikan kata-kata mutiara dan hikmah yang sangat berguna bagi
kita.
Salaf dan
Tazkiyatun Nufus
Salah satu sisi
ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah tazkiyatun nufus (penyucian
jiwa). Allah selalu menyebutan tazkiyatun nufus bersama dengan ilmu. Allah
berfirman:
"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di
antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan
mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa
yang belum kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah :
151)"
Ertinya, ilmu itu
mesti disertai dengan tazkiyatun nufus. Oleh sebab itu dapat kita temui dalam
biografi ulama salaf tentang kezuhudan, keikhlasan, ketawadhu`an dan kebersihan
jiwa mereka. Begitulah, mereka selalu saling mengingatkan tentang mustahaknya
tazkiyatun nufus ini. Dari situ kita dapati ucapan-ucapan ulama salaf sangat
menghunjam ke dalam hati dan penuh dengan hikmah. Hamdun bin Ahmad pernah
ditanya: "Mengapa ucapan-ucapan para
salaf lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita?" beliau menjawab: "Kerana mereka berbicara untuk
kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman, sementara kita
berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia dan mencari ridha manusia!"
Salaf dan Kegigihan
Dalam Menuntut Ilmu
Imam
Adz-Dzahabi berkata: "Ya`qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari Shalih
bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar berkata: "Saya
datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya: "Sampaikanlah
kepadaku beberapa hadits!" Beliau berkata: "Bacalah!"
"Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku!" jawabku.
"Bacalah!" kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau.
Akhirnya ia berkata: "Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan pukul
dia lima belas kali!" Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku lima belas
kali. Kemudian ia membawaku kembali kepada beliau. Pelayan itu berkata:
"Saya telah memukulnya!" Maka aku berkata kepada beliau:
"Mengapa tuan menzalimi diriku? tuan telah memukulku lima belas kali tanpa
ada kesalahan yang kuperbuat? Aku tidak sudi memaafkan tuan!"
"Apa tebusannya?" tanya beliau. "Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits!" jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan kepada beliau: "Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits untukku!" Imam Malik hanya tertawa dan berkata: "Pergilah!"
"Apa tebusannya?" tanya beliau. "Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits!" jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan kepada beliau: "Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits untukku!" Imam Malik hanya tertawa dan berkata: "Pergilah!"
Salaf dan
Keikhlasan
Generasi salaf
adalah generasi yang sangat menjaga aktiviti hati. Seorang lelaki pernah
bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau. Dengan marah ia
berkata: "Demi Allah satu rakaat
yang kukerjakan di tengah malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada
shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada
orang-orang!"
Ar-Rabi` bin
Khaitsam berkata: "Seluruh perbuatan
yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!"
Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti, mendengarkan
dan mencintai mereka. Imam Mujahid pernah berkata: "Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka
Allah akan menghadapkan hati manusia kepadanya."
Memang diakui,
menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan tidak mendapat
bahagian apapun darinya. Sahal bin Abdullah berkata: "Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat
ikhlas, karena ia (seakan-akan -red.) tidak mendapat bagian apapun
darinya."
Sehingga Abu
Sulaiman Ad-darani berkata: "Beruntunglah
bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali
mengharap ridha Allah!"
Mereka juga sangat
menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasan, seperti gila
populariti, gila kedudukan, suka dipuji dan diangkat-angkat. Ayyub
As-Sikhtiyaani berkata: "Seorang
hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka populariti."
Yahya bin Muadz berkata: "Tidak akan
beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan." Abu Utsman Sa`id
bin Al-Haddad berkata: "Tidak ada
perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila
sanjungan."
Oleh karena itulah
ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada murid-muridnya. Ar-Rabi`
bin Shabih menuturkan: "Suatu ketika, kami hadir dalam majelis Al-Hasan
Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba salah seorang
hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: "Demi Allah,
pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat
ini!"
Salaf dan Taubat
Setiap Bani Adam
pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera
bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullah dalam sebuah
hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!
`Aisyah berkata: "Beruntunglah bagi orang yang buku
catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar." Al-Hasan Al-Bashri
pernah berpesan: "Perbanyaklah
istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan
dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak
tahu kapan turunnya ampunan!"
Tangis Generasi
Salaf
Generasi salaf
adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga hati mereka mudah
tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala. Terlebih
tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur`an.
Ketika membaca
firman Allah: "Dan hendaklah kamu
tetap di rumahmu" (QS. Al-Ahzab : 33) `Aisyah menangis tersedu-sedu
hingga basahlah pakaiannya."
Demikian pula Ibnu
Umar , ketika membaca ayat yang artinya: "Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)." (QS.
Al-Hadid : 16) Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.
Ketika beliau
membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat yang artinya: "Pada suatu hari yang besar, (yaitu)
hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (QS.
Al-Muthaffifiin : 5-6) Beliau menangis dan bertambah keras tangis beliau
sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.
Salaf dan Tawadhu`
Pernah
disebut-sebut tentang tawadhu` di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam
saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka:
"saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu`!" Mereka
berkata: "Apa itu tawadhu` wahai Abu Sa`id?" Beliau menjawab:
"Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu
menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya."
Ibnul Mubarak
pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin Uyainah, ia
berkata: "Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih senior
dari kami."
Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: "Apa itu tawadhu`?" Ia menjawab: "Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!"
Mutharrif bin
Abdillah berkata: "Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali diriku
merasa semakin kecil."
Salaf dan Sifat
Santun
Pada suatu malam
yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati seorang lelaki yang
tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata: "Apakah engkau
gila!" Umar menjawab: "Tidak" Namun para pengawal berusaha
meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya berkata:
"Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak."
Seorang lelaki
melapor kepada Wahab bin Munabbih: "Sesungguhnya Fulan telah mencaci
engkau!" Ia menjawab: "Kelihatannya setan tidak menemukan utusan
selain engkau!"
Salaf dan Sifat
Zuhud
Yusuf bin Asbath
pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Aku
tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap
kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan,
minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka
iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya."
Imam Ahmad pernah
ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar apakah termasuk
zuhud? Beliau menjawab: "Boleh saja,
asalkan ia tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika
berkurang."
Demikianlah
beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi kita dalam menuju
proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dalam
meniti jejak generasi salaf dalam setiap aspek kehidupan.
(ditulis ulang
dari Majalah As Sunnah Edisi 04/VI/1423H)
______________________________________________________________________________________________________
“inilah
jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak kamu kepada
Allah dengan DALIL yang nyata”
(Surah Yusof : 108)
Tulisan yang anda baca ini
adalah sebahagian Siri Kuliah Ibadah yang diedarkan secara percuma untuk tujuan
dakwah. Untuk mendapatkan siri-siri yang terdahulu sila email ke akademisunnah@myquran.com






















































